Thursday, 23 November 2017

Keluarlah dari Zona Nyamanmu, itu jika Kamu ingin sukses

 

Diceritakan bahwa ada seorang Presiden yang dihadiahi 2 anak burung elang. Kemudian dia memutuskan untuk melatih kedua anak elang tersebut agar bisa terbang tinggi. Dia memutuskan untuk menugaskan seorang pelatih burung yang cukup terkenal di negara itu untuk melatih kedua anak elang tersebut.

Setelah sekian bulan, sang pelatih melaporkan kepada sang presiden tentang perkembangan  dua elang ini. Seekor elang dapat terbang tinggi kemudian melayang -  layang di angkasa. Namun, seekornya lagi hanya mampu hinggap termangu di sebantang pohon tanpa sedikitpun beranjak dari sana.

Sang presiden pun memanggil para ahli hewan kemudian berdiskusi dengan mereka tentang elang kesayangannya ini. Sayang sekali, tidak ada diantara mereka yang menemukan solusi, bagaimana membuat burung ini terbang tinggi. Padahal sudah banyak usaha yang mereka lakukan, namun burung elang ini tak kunjung meninggalkan dahannya.

Suatu hari, sang presiden bertemu dengan seorang petani yang paham akan seluk beluk dunia burung Elang, demi mengetahui hal tersebut sang Presiden pun meminta bantuan sang Petani. Selang beberapa hari kemudian, sang Presiden mengunjungi Elang yang ia titipkan ke Petani dan dia kaget begitu melihat Elang miliknya sudah mampu terbang tinggi. Penasaran, ia pun bertanya kepada sang petani, apa yang telah dilakukannya.

“Saya hanya memotong dahan pohon yang selama ini dihinggapinya” jawab sang petani.

Ternyata dahan ini yang telah membuat sang Elang NYAMAN sehingga MALAS untuk terbang.

Dari cerita Elang ini, kita dapat mengambil segenggam hikmah bahwa kita musti sadar, kita ditakdirkan untuk terbang tinggi, namun kadang ada sesuatu yang memegang kita begitu eratnya: KETAKUTAN.

Banyak dari kita, enggan untuk melepaskan ketakutan itu sehingga kita menjadi tidak mau beranjak dari “sang DAHAN”, atau bisa jadi kita udah terlalu nyaman di zona nyamannya kita, kemudian takut dan enggan melepaskan.

Coba kita sebutkan berbagai rasa takut itu,
-          Takut lelah
-          Takut ditolak
-          Takut kerja keras
-          Takut mencoba
-          Takut rugi
-          Takut tidak berkembang
-          Takut gagal
-          Takut diejek
-          Takut tidak bisa
-          Takut investasi, baik uang, waktu dan tenaga
-          Takut berbagi
-          Takut belajar hal baru
-          Takut jadi pemimpin
-          Dan bebagai jenis ketakutan lainnya yang kita miliki masing-masing

Kamu mau menambahkan?



Keluarlah dari Zona Nyamanmu, itu jika Kami ingin sukses
Keluarlah dari Zona Nyamanmu, itu jika Kami ingin sukses


Break that..! Hancurkan.. Lepaskan semua ketakutan itu, keluarlah dari zona nyamanmu. Instrospeksi... Kenali potensi diri yang kita miliki. Percayalah pada diri sendiri, kenapa?, karena itu merupakan salah satu kunci untuk sukses. Selain itu, keluar dari zona nyaman merupakan langkah yang sangat tepat, meskipun yah... membuat kita harus banyak bersabar dalam setiap inci demi inci prosesnya. Namun, jika kita mampu menyesuaikan diri dengan benar, saya yakin kita pasti berhasil.

Sangat tepat jika ada yang mengatakan “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Jadi, setiap kita keluar dari zona nyaman, baiknya jangan pernah berpikir bahwa kita akan gagal. Yakinlah... dengan keyakinan yang sungguh-sungguh dan kerja keras yang kita lakukan saat ini.

Karena keyakinan akan membentuk Anda menjadi apa yang Anda inginkan” 
  –Djoko H. Komara-


Keluarlah dari zona nyamanmu...
Terbanglah lebih tinggi...
Karena kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai PEMENANG...

Beranilah bermimpi...
Beranilah melangkah...
Beranilah berjuang habis-habisan...
Sampai akhirnya kita mampu terbang lebih tinggi...


BERMIMPI - IKHTIAR - DOA

Thursday, 28 September 2017

Hari Kedelapan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Penanaman Mangrove : Filosofi itu berbicara tentang Jarak

 
Bismillah. Selamat bertemu kembali di lanjutan cerita perjalanan kami, tim 1 ENJ Sultra 2017, yang sekarang masuk hari ke 8. Sebelumnya maafkeun yah, baru bisa posting lagi setelah agak lama dari postingan hari ketujuh. Maklum, lagi sibuk-sibuknya ngurusin Lamaran. Banyak sekali rupanya yang harus diurus, mulai dari restu kedua orang tua, surat dari pak Lurah, beuh.. Salinan Ijazah sama transkrip, fotocopy KTP dan lain-lain. Nanti kalau kalian juga udah masuk dunia kerja, bakal ngerasain juga. Hehe.. Kata teman saya yang saya bantu melamar ini, kalau gak diterima-terima lowongan kerja lagi, bikin pekerjaan aja sekalian.. Mantap juga dia.

Baik.. Sebelum saya melenceng terlalu jauh bahas Dunia Kerja. Kami hari ini mengagendakan satu program kerja yakni Penanaman bibit Mangrove. Selain Teras Baca, program penanaman Mangrove merupakan program Unggulan dari Tim Ekspedisi Nusantara Jaya. Menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia tentu tidak akan terasa bermakna jika lingkungannya tidak terlestarikan dengan baik.

Sudah umum diketahui bahwa mangrove berperan penting sebagai “Pagar Hidup” dari terjadinya abrasi. Pun menjadi rumah bagi banyak spesies laut. Dan hei... Jangan lupa, di beberapa daerah malah dijadikan ekowisata berupa trekking mangrove. Karena Romantis itu.. menikmati sunset sambil menyeduh teh hangat di taman Mangrove. Beuh.

Kami memulai kegiatan hari ini dari rumah Bapak Sekdes Wangkolabu, dengan pengarahan langsung dari beliau tentang teori menanam Mangrove secara singkat. Tidak sulit, sungguh sederhana. Aktifitas kami kali ini ditemani oleh adik-adik dari Sahabat Mangrove Wangkolabu dan juga adik-adik Purna Paskibra 2017 Kecamatan Towea.

Oh iya, masih ingat tulisan saya tentang Filosofi Bibit Mangrove? Atau kalau belum baca, silahkan baca dulu disini.
Setelah terpisah dari Induknya, bibit ini akhirnya menemukan tempat baru untuk membersemai hidup dan lingkungannya yang baru. Beberapa area yang masih kurang pohon Mangrovenya menjadi target kami hari ini.

Sebelum ditanam, kami menentukan dulu titik-titik kordinat area yang akan kami tanami. Setelah itu membuat rapi dengan memberikan tanda pada setiap titik. Jadi tidak asal tanam. Antara satu bibit dengan bibit yang lain harus ada jarak. Biar kedepannya teratur. Tuhkan.., saya malah ketemu filosofi baru lagi, seperti ini bunyinya:
Tuhan saat ini membuatmu berjarak dengan dia yang kau cari selama ini, karena kau harus yakin bahwa takdirnya akan datang secara teratur, baik kapan, dimana, bagaimana dan siapa dia kelak”

Saya coba tebak yah. Kalian yang Jomblo mungkin agak sedikit baper baca ini. Sedikit.. jangan banyak-banyak.

Coba tebak, tangan siapa? Susah kan nebaknya
Baik.. Lanjut.
Kata pak Sekdes, jika bibit-bibit ini tumbuh sebagaimana mestinya. Mungkin, 3, 5 atau 10 tahun lagi kita sudah melihat hasilnya. Duh pak, berarti kami wajib datang lagi ke Towea untuk melihat bibit yang akan mendewasa ini? Baiklah. InsyaAllah.

Sedikit back to the past di ENJ 2016. Saat itu saya tidak berkesempatan ikut menanam mangrove bersama teman-teman yang lain karena tim, saat itu, dibagi dua. Saya masuk tim yang ikut serta dalam seminar kepemudaan bersama Ibu Wakil Bupati Wakatobi.

Alhamdulillah, tahun ini berkesempatan meninggalkan jejak di Pulau Towea berupa tanaman Mangrove. Semoga kelak, keindahan mangrove ini dapat kita nikmati bersama.

Adik-adik Sahabat Mangrove.... Dijaga dan dirawat yah Mangrovenya..

See you again. Sampai jumpa lagi. *Mata berkaca-kaca*

Sahabat Mangrove......

Wednesday, 13 September 2017

Hari Ketujuh Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 tim 1 Sultra | Berbagi Seragam Sekolah : Kutemukan Cinta di Pulau Towea

 
Seminggu sudah kami berada di Desa Wangkolabu. Seminggu sudah kisah terukir di desa ini dan tentu saja, Pulau Towea. Sebagian kami, jika menyadari hal ini mungkin akan membias sudut matanya. Betapa waktu cepat berlalu. Hampir-hampir separuh agenda kami disini telah terealisasi yang artinya saat itu akan segera tiba, Perpisahan.

Entahlah, memulai menuliskan artikel di pagi hari seperti ini. Bayang-bayang berakhirnya masa pengabdian disini segera muncul. Mungkin karena tinggal beberapa hari lagi disini. Aku merasakan betul suasana bagaimana kami diterima dengan baik oleh masyarakat terutama anak-anaknya. Hai, adik-adik.. How are you today? Are you ok? Really?. Sepertinya masih terbayang, beberapa dari kalian kucoba ajarkan bahasa Inggris, dan hei.. Kalian dengan cepat mampu merespon. Opkurs kakak, syurrrr.. Ama terue.... (Of course, Sure, I’m true).

Seperti yang kuceritakan di postingan hari keenam, hari ini agenda kami lebih banyak di posko, mengerjakan beberapa pekerjaan ringan untuk program kerja esok hari. Beberapa diantara kami harus lebih banyak beristirahat karena faktor kelelahan dan juga demam yang melanda. Alhamdulillah ‘ala kulli hal selama disini tidak ada masalah yang berarti bagi saya dengan kesehatan.

Adapun agenda hari ini, yaitu Memaketkan Seragam-seragam sekolah untuk anak-anak Pulau Towea dan Pencarian Ajur (kayu penyangga bibit mangrove yang baru ditanam).

Alhamdulillah, Tim 1 ENJ Sultra 2017 diamanahkan seragam-seragam sekolah baik tingkat SD, SMP maupun SMA sebanyak 316 pcs untuk disalurkan di Pulau Towea. Sumbangan seragam ini berasal dari “Jaskol Collection”, sebuah unit usaha Konveksi dan distributor Seragam Sekolah. Terima kasih banget udah jauh-jauh kirimnya dari Tanah Abang, Djekardah. Jika ada kesempatan kesana, ingin sekali jalan-jalan ke Jaskol Collection. Semoga semakin berkah usahanya, karena keberkahan itu terpancar dari senyum adik-adik dan orang tua yang menerima sumbangan ini. Hallo Mbak Nabilah, salam hangat dari Pulau Towea. Kapan kesini?


Serta tak lupa pula buat seluruh donatur lainnya yang telah menyumbangkan pakaian dengan beragam variasi kepada kami. Dokumentasinya saya lampirkan di bawah postingan ini.

Untuk menyalurkan seragam dan pakaian ini kami dibantu oleh Ibu-Ibu kader Posyandu dalam mendata siapa saja yang akan menerimanya. Hari ini saya bertugas menuliskan nama-nama penerima seragam Sekolah yang kemudian ditempelkan di setiap paket.
Satu-satu nama itu disebut oleh Ibu Sekdes, dan tugasku begitu mudah. Menuliskannya saja.
Aditia” seru bu Sekdes
Sudah..” jawabku
Cece”
ya..”
Intan”
sudah”
Cinta..”

Hah? Cinta? Duh... bu Sekdes pasti lagi manggil pak Sekdes. Bapak Ibu memang beda dengan pasangan suami istri pada umumnya. Biasanya kan, yang lain pada manggil Mah.. Pah.. Buk.. Kalau beliau berdua ma beda.

Yank...”
Sayang..”
Cinta... ambilkan tolong memori kamera. Saya simpan di kamar itu”
Iya Cintaku..”

Apalagi nih yah. Kalau kita lagi duduk rame-rame sambil leha-leha di bale bambu Teras baca. Terus dengerin Honey Calling kayak gitu. Emm... Sumpah.. Seketika BaperMax. Baper Maksimum. Kita semua yang pada Jomblo, cuma bisa meraba hati yang nyesek. Senyesek nahan kentut di pagi hari di tengah keramaian. Soalnya yang gituan mah #hanyaUntukCintayangHalal.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang berkali-kali dan sering mi diucapkan laut kepada terumbu karang yang menjadikannya Indah”

Mungkin begitulah kira-kira kalau Bapak bacain puisi “Aku Ingin”nya Pak Sapardi ke Ibu. Dibelokin dikit biar nuansa laut dan pesisirnya dapat. Maafkeun yah Pak Sapardi. *senyum-senyum*


Imam, sudah ditulis?” tanya Ibu Sekdes
Sudah Bu.. Ini Intan” sambil saya perlihatkan kertasnya “Intan”.
Bukan, ini yang baru.. namanya Cinta”
Ouh... Siap Bu”

Unik dan keren yah ada nama Cinta di sini. Walau saya belum pernah ketemu Si Cinta ini, biarlah. Maksud saya... biar judul artikel selaras dengan judul-judul artikel sebelumnya. Maka, Kutemukan Cinta di Pulau Towea asal muasalnya dari sini. Ada nama adik kita, Cinta, yang beruntung mendapatkan seragam sekolah.

Untuk Cinta



Mencari Ajur

Selain itu, kegiatan hari ini adalah mencari Ajur. Ajur? What is that? Itu apa yah?
Sederhananya sih, ajur adalah kayu sepanjang setengah meter yang akan kami gunakan besok pada saat penanaman bibit mangrove. Fungsinya sebagai sandaran bagi bibit mangrove agar bisa tegak di awal penanamannya. Gitu.. Lucu juga sih bilang ini, Bibit mangrove aja butuh sandaran.




Bersama adik-adik Sahabat Mangrove Wangkolabu, kami mencarinya di hutan Bakau. Alhamdulillah menjelang sore, selesai juga. InsyaAllah akan aku ceritakan selanjutnya keseruan aktifitas penanaman bibit Mangrove ini.

Berikut beberapa dokumentasi pembagian Seragam Sekolah dan pakaian layak kepada masyarakat di Pulau Towea.












Tuesday, 12 September 2017

Hari Keenam Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 tim 1 Sultra | Antara Buku dan Pembaca : Yang ditakdirkan bertemu pasti bertemu.

 
Salah satu program unggulan yang wajib adalah Teras baca. Pada Ekespedisi Nusantara Jaya Sultra 2016, teras atau taman baca dibangun dan diresmikan di desa Mola Bahari yang infonya bisa teman-teman baca disiniSaya baru sadar, peresmian teras baca Towea dan Taman Baca Wakatobi sama-sama tepat hari keenam setelah mengecek postingan tahun lalu.
Nah untuk teras baca di Ekspedisi Nusantara Jaya Sultra 2017 dibangun dan juga diresmikan di Desa Wangkolabu, Kecamatan Towea, Kabupaten Muna.

Sepengetahuan saya, hampir seluruh tim ENJ 2017 Sultra melaksanakan program ini. Membaca adalah salah satu pintu terbukanya wawasan anak bangsa terhadap ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, kita harapkan anak-anak ini berani untuk bermimpi besar dan mewujudkan setiap mimpi mereka kelak.

Ketika masih penggalangan donasi buku ini, saya ada sedikit cerita. Saya punya seorang kawan, yang pada hari itu sedang membereskan rumahnya. Tak terkecuali dengan buku-buku pelajaran yang dia gunakan dahulu waktu masih bersekolah. Dia ingin menyumbangkan buku tersebut, tapi entah kemana.


Di saat kebingungan seperti itu, ternyata ada salah satu anggota tim kami yang memposting donasi buku ini. Di group yang sama dengan temanku, akhirnya dia baca. Dan.... ketemulah yang harusnya bertemu. Buku dan pembacanya.

Adalah Pak Maslin, Sekdes Wangkolabu yang bersedia menjadikan teras rumah beliau untuk didesain dan dipasangkan rak-rak buku. Adapun buku-bukunya, kami dapatkan dari berbagai sumber baik dari individu-individu maupun instansi yang menyumbangkan buku-buku mereka.

Semoga kebaikan para donatur ini dapat bermanfaat untuk masyarakat Pulau Towea. Teras baca ini diresmikan langsung oleh Camat Towea, dihadiri juga Kepala Desa dan Sekretaris Desa Wangkolabu serta Kapolsek Towea.



Sebagai penutup acara Peresmian Teras Baca ini, ada pembagian souvenir yang berasal dari sumbangan teman-teman dari Komunitas Turun Tangan Medan. Jaazakallahu khairan katsiran yah teman-teman Turun Tangan Medan



Pagi harinya sebelum peresmian Teras baca di siang hari, kami mengadakan kegiatan pemeriksaan Kesehatan untuk masyarakat nelayan di Pulau Towea. Bekerjasama dengan teman-teman dari Nusantara Sehat. 
 



Hari ini juga 2 peserta harus pulang lebih awal. Ada Ender yang harus pulang karena akan mengikuti wisuda dan ada Dian yang juga harus balik ke Medan. Once again, Happy Graduation our Gender Antropolog and take care in your adventure our Heroine from North Sumatra.

Tepat setelah rangkaian acara hari ini selesai. Satu-satu peserta mulai drop, sebenarnya sudah beberapa hari ini sudah ada yang kena gejala flu, kelelahan dan sebagainya. Mungkin besok bakal diagendakan kegiatan-kegiatan ringan saja sambil recovery fisik para peserta.


Berikut ini kuterbitkan beberapa foto-foto buku sumbangan para donatur. Semoga Kebaikan kalian semua, berbalas dengan semakin baiknya pendidikan Indonesia.

Perjuangan untuk Indonesia lebih baik tidak boleh berhenti disini. Dimana pun kau berada, berikanlah yang terbaik karena KITA adalah Indonesia.











Wednesday, 6 September 2017

Hari Kelima Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 | Pantai Bungin Pinungan dan arti kebersamaan

 

Agenda untuk hari kelima adalah melaksanakan program eksplorasi obyek wisata Pulau Towea dan Coastal cleaning.

Pagi-pagi sekali, saat jam baru menunjukkan pukul 6 pagi kami telah berkumpul untuk bersiap menuju Pantai Bungin Pinungan. Yap, itulah nama pantainya. Dari posko kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dengan lama perjalanan sekitar sejam. Kami menyusuri pesisir pulau towea ini dengan jalan setapak berbeton yang sudah lama dibangun.

Pantai, sudah lama sekali rasanya diri ini akrab dengan model alam yang satu ini. Sejak tinggal di Desa Tamborasi, pantai menjadi bagian hidupku maksudku karena pantai tamborasi tepat di belakang rumah. Yang membuat aku dan peserta ekspedisi lainnya sangat penasaran dengan pantai ini adalah pantai ini menjadi salah satu latar sebuah Film Nasional, berjudul Jembatan Pensil.

Dan juga ketika hari pertama saat perjalanan menuju Desa Wangkolabu, kami melewati pantai ini walau dari jauh tetapi pemandangan pasir putihnya yang seperti hamparan kertas putih memanjang membuat kami, ya apalagi kalau bukan sangat penasaran.

Tempat ini keren lah, mulai dari jalan setapak menuju pantai, hamparan pasir pesisir, bangunan SD Towea, dan biru hijaunya laut.




Tidak ke pantai namanya kalau tidak berenang. Sungguh, saya tidak berniat sebenarnya buat berenang kesana karena hati yang... eh fisik yang mulai lelah plus gejala flu yang menimpa. Sehingga kesana pun, saya masih menggunakan celana panjang explore yang sungguh berat di air.

Tapi yah, kalau sudah nemu pantai apalagi keren gini, hati sudah khilaf kayaknya untuk segera terjun.

=====
Atas inisiatif Pak Sekdes, kami menulis "ENJ 2017" menggunakan pasir dan kerikil-kerikil pantai dan setelah selesai berfoto disitu, kami melanjutkan program coastal cleaning di sekitar pantai. 

 

Bakar Ikan
Dan yang paling ditunggu, makan siang hehe. Harap dimaklumi, penulis ini penikmat kuliner lokal berbiaya rendah. Jadi, pagi sebelum berangkat Bu Kades memberikan kami sekantong besar Ikan laut yang masih segar-segar. Nah, ikan itu yang kami bakar hari ini. Menu makan siang kali ini boleh sederhana, Ikan bakar yang cukup dibersihkan kemudian dibakar dipadukan dengan sambal bawang tomat garam plus nasi, tetapi kebersamaan, suasana pantai yang asik membuat makan siang terasa nikmat.

Setelah kami makan siang, kami melakukan sholat dzuhur dahulu sebelum terjun ke pantai.

====
Aku mengambil langkah jauh di dermaga, bersiap dengan segala kekuatan dan kemudian melompat setinggi-tingginya dan bumm... amboi nian air lautnya...

Satu pelajaran berharga yang ingin kupetik, tentang arti Kebersamaan. Hidup ini boleh sederhana, tetapi kebersamaannya harus selalu bermakna.