Wednesday, 6 September 2017

Hari Kelima Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 | Pantai Bungin Pinungan dan arti kebersamaan

 


Agenda untuk hari kelima adalah melaksanakan program eksplorasi obyek wisata Pulau Towea dan Coastal cleaning.

Pagi-pagi sekali, saat jam baru menunjukkan pukul 6 pagi kami telah berkumpul untuk bersiap menuju Pantai Bungin Pinungan. Yap, itulah nama pantainya. Dari posko kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dengan lama perjalanan sekitar sejam. Kami menyusuri pesisir pulau towea ini dengan jalan setapak berbeton yang sudah lama dibangun.

Pantai, sudah lama sekali rasanya diri ini akrab dengan model alam yang satu ini. Sejak tinggal di Desa Tamborasi, pantai menjadi bagian hidupku maksudku karena pantai tamborasi tepat di belakang rumah. Yang membuat aku dan peserta ekspedisi lainnya sangat penasaran dengan pantai ini adalah pantai ini menjadi salah satu latar sebuah Film Nasional, berjudul Jembatan Pensil.

Dan juga ketika hari pertama saat perjalanan menuju Desa Wangkolabu, kami melewati pantai ini walau dari jauh tetapi pemandangan pasir putihnya yang seperti hamparan kertas putih memanjang membuat kami, ya apalagi kalau bukan sangat penasaran.

Tempat ini keren lah, mulai dari jalan setapak menuju pantai, hamparan pasir pesisir, bangunan SD Towea, dan biru hijaunya laut.




Tidak ke pantai namanya kalau tidak berenang. Sungguh, saya tidak berniat sebenarnya buat berenang kesana karena hati yang... eh fisik yang mulai lelah plus gejala flu yang menimpa. Sehingga kesana pun, saya masih menggunakan celana panjang explore yang sungguh berat di air.

Tapi yah, kalau sudah nemu pantai apalagi keren gini, hati sudah khilaf kayaknya untuk segera terjun.

=====
Atas inisiatif Pak Sekdes, kami menulis "ENJ 2017" menggunakan pasir dan kerikil-kerikil pantai dan setelah selesai berfoto disitu, kami melanjutkan program coastal cleaning di sekitar pantai. 

 

Bakar Ikan
Dan yang paling ditunggu, makan siang hehe. Harap dimaklumi, penulis ini penikmat kuliner lokal berbiaya rendah. Jadi, pagi sebelum berangkat Bu Kades memberikan kami sekantong besar Ikan laut yang masih segar-segar. Nah, ikan itu yang kami bakar hari ini. Menu makan siang kali ini boleh sederhana, Ikan bakar yang cukup dibersihkan kemudian dibakar dipadukan dengan sambal bawang tomat garam plus nasi, tetapi kebersamaan, suasana pantai yang asik membuat makan siang terasa nikmat.

Setelah kami makan siang, kami melakukan sholat dzuhur dahulu sebelum terjun ke pantai.

====
Aku mengambil langkah jauh di dermaga, bersiap dengan segala kekuatan dan kemudian melompat setinggi-tingginya dan bumm... amboi nian air lautnya...

Satu pelajaran berharga yang ingin kupetik, tentang arti Kebersamaan. Hidup ini boleh sederhana, tetapi kebersamaannya harus selalu bermakna.

No comments:
Tulis komentar